Ketika kita menghadiri kajian rutin, biasanya wajah-wajah yang hadir itu lagi, itu lagi. Kalaupun ada yang baru, paling hanya satu atau dua orang.
Berbeda ketika menghadiri tabligh akbar, apalagi jika yang mengisi adalah ustadz yang sudah dikenal luas. Sebagian besar yang hadir justru wajah-wajah baru.
Mengapa bisa begitu?
Karena menghadiri kajian rutin membutuhkan istiqamah. Datang sekali mungkin mudah, tetapi terus hadir pekan demi pekan, bulan demi bulan, itulah yang berat. Padahal ilmu tidak dibangun dari satu ceramah besar, melainkan dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Bahkan tidak jarang, kajian rutin hanya dihadiri segelintir orang. Sampai-sampai kita merasa iba kepada ustadz yang telah menempuh perjalanan jauh dari luar kota, namun tetap datang dengan penuh keikhlasan meski jamaah yang hadir hanya sedikit.
Begitulah keadaan menuntut ilmu di zaman ini. Dahulu para penuntut ilmu rela menempuh perjalanan jauh demi duduk di hadapan guru. Kini justru guru yang datang mendatangi kita. Kita hanya perlu melangkahkan kaki beberapa kilometer, bahkan ilmu seakan "disuapkan" langsung kepada kita. Namun tetap saja, menghadiri majelis ilmu secara rutin terasa berat bagi sebagian orang.
Semoga Allah Ta'ala menjaga guru-guru kita, melimpahkan pahala yang sebesar-besarnya atas setiap langkah, perjalanan, dan ilmu yang mereka sampaikan. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa mereka, memberkahi umur dan amal mereka, serta menganugerahkan kepada mereka surga Firdaus yang tertinggi.
Dan semoga Allah Ta'ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang dimudahkan untuk istiqamah menghadiri majelis ilmu. Karena keberkahan ilmu bukan diukur dari ramainya sebuah acara atau banyaknya jamaah yang hadir, tetapi dari kesungguhan dalam terus belajar, mengamalkan, dan bersabar di atas jalan ilmu.