Sering kali, seseorang yang merasa lebih senior, lebih lama menghadiri majelis ilmu, atau lebih dahulu mengenal sunnah, ketika mendengar sebuah nasihat justru yang pertama kali dicari adalah:
"Siapa yang menyampaikan?"
"Sudah berapa lama dia ngaji?"
"Belajar sama siapa?"
Padahal, jika yang disampaikan adalah kebenaran yang sesuai dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah menurut pemahaman para salaf, maka yang seharusnya kita lakukan adalah melapangkan hati untuk menerimanya.
Kebenaran tidak menjadi salah hanya karena disampaikan oleh orang yang usianya lebih muda, baru belajar, atau belum lama menghadiri majelis ilmu. Sebaliknya, kesalahan tidak berubah menjadi benar hanya karena keluar dari lisan orang yang lebih senior.
Orang yang tawadhu' akan bergembira ketika diingatkan kepada kebenaran, dari siapa pun datangnya. Karena tujuan seorang mukmin bukanlah mempertahankan gengsi, tetapi mengikuti kebenaran.
Maka, sebelum bertanya, "Siapa yang menasihati?", hendaknya kita bertanya terlebih dahulu, "Apakah yang disampaikannya adalah kebenaran?" Jika jawabannya iya, maka itulah yang paling layak untuk diterima.
Sibuk menilai pembawa nasihat, bisa membuat kita lalai menilai isi nasihat. Padahal, yang akan ditanya di hadapan Allah bukanlah siapa yang menyampaikan kebenaran kepada kita, tetapi bagaimana sikap kita ketika kebenaran itu telah sampai.