Pendidikan Islam

Menjadi Guru Agama, Siapkah dengan Konsekuensinya?

Jika memilih jalan menjadi guru di pondok pesantren, guru agama, atau guru ngaji, maka salah satu konsekuensi yang perlu dipahami sejak awal adalah bahwa penghasilannya sering kali tidak besar. Ini bukan rahasia lagi. Di banyak tempat, gaji guru agama masih jauh dari kata ideal.

Karena itu, tidak sedikit guru agama yang akhirnya memiliki usaha sampingan. Tentu usaha tersebut dijalankan di luar jam mengajar dan sesuai dengan aturan yayasan atau lembaga tempatnya mengabdi. Dengan cara ini, kebutuhan keluarga tetap dapat terpenuhi tanpa mengganggu amanah dalam mendidik para penuntut ilmu.

Jika sejak awal merasa tidak siap dengan kondisi tersebut, maka sebaiknya dipertimbangkan kembali sebelum memilih profesi ini. Jangan sampai semangat mengajar berubah menjadi kekecewaan karena kenyataan finansial yang memang sudah diketahui sejak awal.

Sebaliknya, apabila tujuan utama adalah mengejar penghasilan sebesar-besarnya, maka dunia usaha atau bisnis memang umumnya menawarkan peluang yang lebih luas dibandingkan profesi guru agama.

Yang cukup memprihatinkan adalah masih adanya anggapan di sebagian masyarakat bahwa guru agama seharusnya mengajar secara sukarela, tidak perlu digaji, karena "pahalanya di akhirat". Seolah-olah cukup berharap balasan dari Allah tanpa memikirkan kebutuhan hidupnya.

Padahal guru agama juga manusia. Mereka membutuhkan makanan, memiliki istri dan anak yang harus dinafkahi, membayar kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan anak, biaya kesehatan, dan sesekali ingin mengajak keluarganya berlibur ketika hari libur tiba sebagaimana keluarga-keluarga lainnya. Semua itu adalah kebutuhan yang wajar.

Ironisnya, banyak orang rela mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk menyekolahkan anaknya di sekolah umum atau sekolah unggulan. Namun ketika memilih sekolah Islam atau pesantren, sebagian justru berharap biayanya serendah mungkin, bahkan kalau bisa gratis.

Tentu tidak semua orang bersikap demikian. Banyak pula kaum muslimin yang sangat menghargai jasa para guru agama dan berusaha membantu agar mereka dapat mengajar dengan tenang tanpa dibebani kesulitan ekonomi.

Semoga Allah memberikan kecukupan rezeki kepada para guru agama, para ustadz, dan para pengajar Al-Qur'an. Semoga Allah membalas keikhlasan mereka dengan pahala yang besar serta menggerakkan hati kaum muslimin untuk lebih menghargai dan mendukung pendidikan Islam, sehingga para pendidik dapat terus menjalankan amanahnya dengan sebaik-baiknya.